Showing posts with label Agama Hindu. Show all posts
Showing posts with label Agama Hindu. Show all posts

Friday, December 30, 2011

Pujawali Pura Khayangan Jagat Lingsar dan Perang Topat 2011


Arak-arakan Ketupat

Banyak yang menganggap bahwa Pulau Lombok adalah satelit Pulau Bali. Stigma ini acap muncul karena ada banyak sekali pertalian antara dua pulau kecil di hemisfer selatan Indonesia dan di timur ingar Pulau Jawa ini. Mulai dari citra Lombok yang dianggap “the New Bali” dan digadang-gadang akan menggantikan Bali sebagai destinasi utama wisata alamnya. Jika Kuta Bali sudah overcrowded dengan bule Aussie tak tahu diri, Lombok menawarkan Pantai Kuta yang dengan nama yang sama menyajikan keindahan pantai jauh melebihi Kuta Bali. Ada juga idiom bahwa anda bisa melihat Bali di Lombok namun anda tidak bisa melihat Lombok di Bali. Tidak salah, karena memang sangat jamak wajah-wajah Bali kita lihat di Lombok, utamanya Lombok bagian barat, tempat sebuah kerajaan besar asal Bali menancapkan kuku kekuasaannya dengan amat tajam. Menghasilkan kemiripan simbol-simbol budaya, pertalian dua suku besar, dan perang dingin yang tak pernah berakhir. Ya, Kerajaan Karangasem memang bisa dibilang menjadikan Lombok bagian Barat menjadi Bali seberang laut.

Jika anda membuka buku panduan wisata atau panduan perjalanan yang mengulas tentang Pulau Lombok dan membuka chapter Lombok bagian barat, maka anda akan temukan bahwa sangat banyak destinasi wisata berupa Pura. Ya, di Lombok bagian Barat mencakup Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram adalah pusat kekuasaan Kerajaan Karangasem Sasak dan beberapa kerajaan “orang Bali” yang tentu saja mendirikan beberapa monumen sebagai bentuk kekuasaan atas warga lokal-Suku Sasak-yang salah satu wujudnya adalah pura sebagai tempat persembahyangan Suku Bali yangberagama Hindu. Sebut saja Pura Gunung Pengsong yang adalah pura tertua di Gumi Sasak (julukan Pulau Lombok yang didiami Suku Sasak),Pura Kelepug Mayura (merajan Raja Karangasem), Pura Batu Bolong yang sepintas mengingatkan kita akan Pura Tanah Lot karena kemiripan letak geografisnya di dekat pantai, Pura Suranadi yang mirip Pura Alas Kedaton karena terletak di daerah hutan dengan populasi kera, Pura Kelasa Narmada-miniatur Gunung Rinjani, dan yang paling unik adalah Pura Lingsar.
Beleganjur



Pura yang disebut terakhir adalah obsesi tersendiri bagi saya. Beberapa kali mendengar cerita unik tentang pura ini namun saya baru bisa mengunjunginya sekaligus mampir sembahyang pada pertengahan 2011. Sempat saya browsing tentang ke-khas-an pura ini. Referensi internet memang sangat banyak, namun saya akhirnya menjadi banyak tahu semenjak bertukar informasi dengan teman yang asli berasal dari Lingsar. Benar sekali, Pura Lingsar memang sangat menarik, kaya cerita, dan sarat akan sejarah.
 

Saya sendiri tidak berniat untuk menjelaskan detail waktu berdirinya pura ini yang tentu saja anda bisa mencarinya lewat Ida Sang Hyang Google namun yang pasti Pura Lingsar adalah salah satu buah karya Raja Karangasem yang berkuasa di Lombok bagian barat, dibangun pada sekitar pertengahan abad 18. Keunikan pura ini tercermin pada fakta bahwa sebuah pura yang notabene adalah tempat suci umat Hindu juga disucikan oleh umat Islam Wetu Telu, Islam asli Lombok yang saat ini mulai tergerus oleh pemurnian oleh kaum puritan. Terdiri dari 3 mandala (wilayah) besar yaitu beji atau pemandian di mandala paling selatan, Kemaliq yang merupakan mandala bagian tengah-bagian inilah yang disucikan oleh umat Hindu dan Wetu Telu, dan Pura Gaduh di bagian paling utara. Mandala yang terletak di tengah bernama Kemaliq adalah titik unik Pura Lingsar. Merupakan tempat sakral bagi umat Hindu dan Wetu Telu, diterapkan aturan khusus bagi pengunjung, pemedek, atau kaum pilgrim yang masuk ke dalam Kemaliq. Pantangan penggunaan daging babi dan sapi sebagai sarana yadnya atau persembahan menunjukkan betapa kedua kepercayaan bisa hidup berdampingan tanpa saling mengkonversi. Memang terdapat kemiripan antara Hindu dan Wetu Telu dari sisi sarana ritual. Sama-sama menggunakan puspam (bunga), dupam (dupa, kemenyan, api), palam (buah-buahan), tirta (air suci) walaupun dengan liturgi yang berbeda. Wetu Telu adalah wujud sinkretisme mistikisme Islam, Adwaita Wedanta, dan kepercayaan lokal. Umat Wetu Telu melakukan beberapa ritual yang berkaitan dengan tahapan kehidupan di depan Kemaliq dan Amangku Kemaliq (pemimpin ritual di Kemaliq). Yang pernah saya lihat adalah ritual “ngurisang” atau memotong tambut bayi.
 

Penari Rejang Dewa saat Pujawali

  Apa sebenarnya Kemaliq? Berbentuk tumpukan batu-batu tua yang ditutupi dengan kain putih kuning, Kemaliq adalah tempat sakral bagi umat Hindu dan Wetu Telu. JIka umat Hindu memuja Betara Gede Lingsar di Kemaliq, maka Wetu Telu percaya bahwa Kemaliq adalah tempat moksa Wali yang menyebarkan Islam di Lingsar. Ini juga salah satu contoh pinjam meminjam terminologi antar kepercayaan. Penggunaan istilah moksa umum ditemui di kepercayaan Wetu Telu. Mirip dengan Hindu yang percaya bila orang-orang suci, ketika menemui ajalnya sama sekali tidak meninggalkan bekas badan wadag (raga), Wetu Telu juga demikian. Istilah yang sama juga ditemui pada cerita tentang wafatnya raja-raja di wilayah Bayan, Lombok Utara.
 
Kesenian Batek Baris

Keunikan lain dari Pura Lingsar adalah perayaan Pujawali atau piodalannya yang tidak sebanyak 2 kali setahun atau setiap enam bulan namun sekali dalam setahun. Pelaksanaan Pujawali ini dihelat oleh umat Hindu yang beberapa rangkaian acaranya dilaksanakan berbarengan dengan umat Islam Wetu Telu. Pujawali Pura Lingsar jatuh setiap Purnamaning Kenem (Purnama keenam) menurut penanggalan Bali/Hindu atau Purnama Kepitu menurut wariga Sasak. Di tahun 2011 ini, puncak acara Piodalan/Pujawali Pura Lingsar jatuh pada tanggal 10 Desember 2011. Yang menarik dan membedakan Pujawali Pura Lingsar dengan Pujawali pura-pura lainnya di Bali ataupun Lombok justru rangkaian acara sebelum dan sesudah puncak Pujawali. Sebelum Pujawali adalah rangkaian mendak tirta serta ngelindengang kaok (membawa kerbau memutari area Pura Lingsar) yang dilaksanakan sehari sebelum Purnama Kenem atau tanggal 09 Desember 2011 dan setelah Pujawali adalah pelaksanaan Perang Topat pada puncak Purnamaning Kenem. Dalam prosesi mendak tirta yang dilakukan umat Hindu dengan berjalan sejauh kurang lebih 5km dari Pura Lingsar menuju Dusun Tragtag, Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar dan kembali ke Pura Lingsar ada sebuah kesenian yang dipentaskan hanya setahun sekali menjelang Pujawali Pura Lingsar yaitu kesenian Batek Baris, beberapa orang berpakaian a la serdadu Belanda lengkap dengan senapan kayu dipimpin oleh seorang commander yang memberikan komando dalam Bahasa Belanda dipadu dengan Basa Sasak dan diiringi dengan Gamelan Dagdagpung (saya belum menemukan nama asli gamelan ini, beberapa masyarakat yang saya tanyai nama gamelan ini hanya menjawab dengan jawaban Gamelan Dagdagpung). Detail sejarah lahirnya kesenian Batek Baris ini masih belum saya temukan. Mungkin karena Pujawali di Lingsar dauhulunya diiringi oleh barisan serdadu Belanda.
 
Ngelindengang Kaok (Kerbau)
Setelah prosesi mendak tirta selesai, rangkaian acara Pujawali dilanjutkan dengan prosesi menarik lainnya yaitu Ngelindengang Kaok atau membawa kerbau memutari areal Pura Lingsar sebanyak 3 kali. Ngelindengang Kaok dilaksanakan oleh pemuda dari Suku Bali dan Suku Sasak. Cara berpakaian kedua kelompok pemuda cukup mirip, yang menjadi pembeda adalah destar poleng (tutup kepala dengan motif papan catur hitam putih) yang digunakan oleh pemuda Suku Bali. Proses Ngelindengang Kaok ini diiringi beberapa jenis gamelan yaitu Gamelan Dagdagpung, Gamelan Tawaq Tawaq, Gamelan Gendang Beleq dan Gamelan Beleganjur. Gamelan yang disebut terakhir dibawakan orang Bali saat tiga yang lain dibawakan oleh pemuda Sasak.
 
Prosesi Ngelindengang Kaok ini juga menjadi salah satu bentuk mutual respek antara dua buah kepercayaan berbeda. Saat babi adalah haram bagi umat Islam dan sapi disucikan oleh umat Hindu, maka kerbau menjadi sarana upakara sebagai bentuk persembahan atas kesuburan alam yang diberikan oleh Hyang Widhi. Ngelindengang Kaok berakhir dengan persembahyangan bersama dengan cara yang berbeda oleh umat Hindu dan Wetu Telu di Kemaliq dipimpin oleh Mangku Hindu dan Amangku Kemaliq dan pemercikan air suci. Para pendukung prosesi pulang dan bersiap untuk acara besar keesokan harinya.
 

Tanggal 10 Desember 2011 menjadi hari yang absurd di mata saya. Saat sebuah prosesi adat budaya yang dibumbui bau spiritual dari dua suku bangsa besar di Gumi Sasak, ternyata pemerintah yang diharapkan melakukan hal hal signifikan dengan hasil akhir berupa lestarinya sebuah karya agungumat manusia, Pujawali dan Perang Topat tidak melakukan usaha yang optimal. Nihilnya pengaturan yang baik pedagang yang ingin kebagian rejeki dalam pujawali tahun ini serta minimnya publikasi atas sebuah acara besar yang dihelat sejak 1800-an adalah bukti sahih bahwa pemerintah hamper absen, jikalau tidak mau dibilang absen karena telah menyumbang baliho tak bermutu dan menghadirkan “jajaran pimpinan daerah” untuk membuka acara Perang Topat 2011. Yang lebih aneh lagi, pada setiap sambutan-yang tak terlalu penting- dari orang-orang penting yang hadir, tidak sekalipun diucapkan salam panganjali umat Hindu yaitu Om Swastyastu. Bukan maksud meminta perhatian dan gila hormat, tapi tahukah mereka esensi Pujawali dan Perang Topat yang pula berbau Hindu-walaupun dihelat berbarengan dengan orang Sasak yang notabene beragama Islam- bahkan acara ini dihelat di sebuah komplek pura. Kekeliruan yang mungkin saja bisa menimbulkan kecurigaan dan mengurangi respek umat Hindu terhadap pemimpinnya di Lombok Barat. Tapi untungnya hal ini tidak menyurutkan antusiasme warga baik yang menjadi pelaksana Pujawali dan Perang Topat maupun masyarakat yang beratensi menyaksikan perhelatan rutin tahunan ini. Walaupun kata masyarakat sekitar Perang Topat kali ini tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, tapi saya tetap sangat penasaran melihat bagaiman Perang Topat itu dihelat.
 

Pernah saya membaca tesis seorang peneliti budaya, Perang Topat adalah sarana bagi orang Sasak untuk “memerangi” penjajah Bali yang tanpa memiliki ekses konflik. Atau ada juga yang mengatakan bahwa Perang Topat digagas oleh Raja Karangasem untuk menunjukkan pada rakyatnya yang terdiri dari Suku Bali dan Suku Sasak bahwa berperang hanya akan menimbulkan ketidakbaikan. Apapun yang pasti Perang Topat adalah rangkaian dari Pujawali Pura Lingsar. Sebelum pelaksanaan Perang Topat, ketupat yang nantinya akan dijadikan senjata dalam peperangan disucikan terlebih dahulu di dalam Kemaliq setelah sebelumnya diarak dengan iringan Gamelan Gendang Beleq dan Tawaq-Tawaq dan didahului rombongan Batek Baris. Saat dimulainya rarak kembang waru atau gugurnya kembang waru, pemuda Sasak yang telah berdiri di atas dinding Kemaliq membagikan ketupat kecil (tipat gatep) untuk dijadikan senjata dalam Perang Topat. Saat perang dimulai, keriuhan pun sontak mencapai titik tertinggi. Dan memang benar, warga asli Lingsar baik Suku Bali maupun Suku Sasak yang berpartisipasi dalam Perang Topat sama sekali tidak terprovokasi dan saling dendam ataupun mengeluarkan kata-kata kasar. Berbeda dengan pendatang dari wilayah luar Lombok Barat ataupun luar Lingsar yang menjadi biang keributan karena menggunakan batu dan telur busuk sebagai amunisi. Lolosnya telur busuk dan batu ini menjadi PR besar bagi pengelola dan pelaksana acara. Jangan sampai ke depannya Perang TOpat akan menjadi pemantik perang sebenarnya di luar arena. Saat pelaksanaan perang selesai, beberapa warga tampak membawa pulang ketupat yang mereka dapatkan saat pembagian ketupat dari Kemaliq. Warga percaya, ketupat tersebut dapat membawa kesuburan bagi ladang dan sawah mereka.
 

Begitulah Pujawali dan Perang Topat di Lingsar, mudah-mudahan lestari dan tak mati dimakan jaman ataupun karena pelakunya telah habis terkonversi oleh purifikasi agama oleh puritan-puritan yang mengintai.

Read More......

Monday, November 22, 2010

Yogyakarta - Sleman - Klaten Part I : Pura Jagatnata Banguntapan


Papan Nama Pura Jagatnata

Yogyakarta-selanjutnya saya singkat YK- adalah regensi multietnis dengan pelbagai suku, ras, dan agama yang mendiaminya. Terlepas dari fakta bahwa YK adalah kota pendidikan yang membuat variasi sosial penduduknya menjadi tinggi, YK juga merupakan pusat budaya yang untungnya sampai saat ini masih belum banyak diintervensi organisasi masa berkedok penjaga kesakralan Tuhan. Beragam agama dan penghayat kepercayaan eksis di kota ini. Termasuk Hindu dengan dua etnis besar penganutnya, Jawa dan Bali. YK juga adalah tempat saya pertama kali diberi bukti bahwa Hindu bukanlah milik orang Bali semata. Ada juga Hindu ber-blangkon, ber-beskap, dan ber-kain lurik. Pun juga keberadaan tempat ibadah Hindu, arsitektur Bali dan arsitektur Jawa bercampur. Memang harus diakui bahwa kembali populernya Hindu di Jawa juga berkat jasa orang Bali, namun seharusnya sang pemantik menjadi pionir juga untuk kebangkitan budaya lokal.

Pura Jagatnata di daerah Banguntapan, Bantul adalah salah satu tempat di mana arsitektur Bali bercampur dengan arsitektur Jawa. Tembok penyengker, balai kentongan (kulkul), dan candi bentar yang berarsitektur Bali ditemani oleh padmasana dan balai tempat persembahyangan berbentuk joglo atau limasan khas Jawa. Ukiran Jawa nampak pada ornamen hiasan kayon / gunungan pada pilar-pilar balai persembahyangan di utama mandala. Umat di pura ini juga merupakan sentra berkumpulnya mahasiswa Hindu YK. Ke depannya, semoga pura bisa menjadi sentra perkembangan kebudayaan asli Hindu Jawa untuk melestarikan local genius Jawa yang semakin ke sini semakin sedikit yang meminati.

Sedikit dokumentasi Pura Jagatnata Plumbon saat saya mengunjunginya Minggu, 21 November 2010 lalu.


Read More......

Wednesday, October 27, 2010

Dusun Jurangjero, antara Hindu, Tembakau, dan Nasi Jagung


Pura Giri Mulyo Jurangjero
Tak banyak mungkin yang tahu bahwa di pedalaman Wonosobo terdapat komunitas Hindu kecil, bahkan di kalangan umat Hindu sendiri. Wonosobo tidaklah populer menjadi destinasi tirta yatra karena tak banyak informasi mengenai keberadaan dan eksistensi umat Hindu di sana.  Saya sendiri tak akan pernah tahu jika tidak diberi tahu oleh Bapak Joko Hariyanto, seorang guru Agama Hindu di Banyumas, saat kunjungan saya ke kantung umat Hindu di Klinting Banyumas. Di sebuah dusun bernama Jurangjero, kata beliau, terdapat beberapa umat Hindu yang merupakan peralihan dari penghayat kepercayaan Mintaraga.

Akses menuju Dusun Jurangjero sebenarnya sangat mudah, namun karena saya awam akan daerah Wonosobo maka saya serahkan pencarian dusun tersebut ke Google Maps. Apesnya, Google Maps hanya bisa mencari nama tempat yang diketahui nama desanya. Pekerjaan saya bertambah untuk mencari nama desa letak Dusun Jurangjero. Untunglah saya menemukan nama desa tersebut, bahkan lengkap dengan nama pura dan pemangku yang ada di dusun tersebut lewat gowinda.wordpress.com.

Mangku Warsito
Dusun Jurangjero, Desa Candiyasan, Kecamatan Kertek adalah detail letak kantung umat Hindu etnis Jawa di Wonosobo. Sekitar 100 meter dari gapura Dusun Jurangjero, saya langsung menemukan sebuah pura yang menurut situs yang saya sebutkan sebelumnya bernama Pura Giri Mulyo. Hal yang saya lakukan kemudian adalah bertanya kepada warga sekitar, di sebelah pura kebetulan terdapat sekelompok warga yang sedang menjemur tembakau, letak kediaman salah satu mangku pura yaitu Bapak Warsito. Memang template orang Jawa yang ramah, pertanyaan saya tidak saja diberikan sebuah jawaban namun juga diberikan tawaran untuk diantarkan ke kediaman sang mangku pura. 

Kediaman Mangku Warsito tampak seperti rumah Jawa kebanyakan, berbentuk Joglo dengan sebuah pintu utama setinggi orang dewasa. Dan seperti kebanyakan manusia Jawa juga, saya disambut dengan hangat, walaupun belum pernah saling bertemu dan mengenal, oleh Mangku Warsito. Tanpa kami minta dan tanpa menanyakan maksud kami untuk datang ke sana, beliau langsung bercerita tentang dirinya, umat Hindu sekitar, dan keberadaan pura di Dusun Jurangjero, setelah kami memperkenalkan diri tentunya.

Awalnya, warga Dusun Jurangjero serta kebanyakan warga Desa Candiyasan menghayat kepercayaan Mintaraga yang merupakan kepercayaan asli Jawa (Kejawen). Seperti umumnya umat Hindu Jawa yang merupakan peralihan dari kepercayaan Kejawen, tahun 1965 s.d 1966 nerupakan tahun-tahun yang menjadi landmark afiliasi penghayat kepercayaan ke agama-agama yang diakui di Indonesia. Beberapa dari mereka kemudian menganut Hindu walaupun secara sembunyi-sembunyi karena terdapat intervensi tersembunyi dari beberapa pihak. Umat Hindu di Jurangjero sendiri baru mulai berani menyatakan diri sebagai Hindu secara implisit sejak tahun 1997, tahun saat Pura Giri Mulyo mulai dirintis untuk dibangun, walaupun tahun 2004-lah mereka mulai mengaku sebagai Hindu secara resmi. Peralihan menjadi Hindu ini sendiri berlangsung secara damai dan tanpa paksaan. Ajaran Hindu dianggap dekat dengan Kepercayaan Mintaraga yangs ama-sama menjunjung tinggi keberadaan leluhur atau pitara. Eyang Lurah Semar Badranaya sendiri merupakan tokoh utama dalam Kepercayaan Mintaraga yang dalam Hindu disebut Kanjeng Betara Ismaya. Menurut informasi dari Mangku Warsito, umat Hindu di Dusun Jurangjero saat ini berjumlah 43 KK dan tidak hidup mengelompok.

Selain menceritakan tentang umat Hindu, Mangku Warsito juga menjelaskan tentang perekonomian di Desa Jurangjero yang didominasi oleh ekonomi agraris. Mayoritas dari umat Hindu Jurangjero adalah penggarap lahan perkebunan jagung dan tembakau. Ada juga yang bekerja sebagai pedagang sayur dan pengepul sayur seperti salah satu putra Mangku Warsito sendiri. Mengenai jagung dan tembakau ini sendiri, saya memiliki sedikit cerita menarik. Layaknya tamu di rumah orang Jawa, kami disuguhi beberapa kudapan seperti peyek dan teh. Ternyata kudapan peyek kacang tadi dibuat dari tepung jagung yang  merupakan olahan sendiri keluarga Mangku Warsito. Teh yang disguhkan untuk saya juga ternyata berasal dari teh di kebun belakang keluarga Mangku Warsito. Dan yang paling menarik adalah saya sempat merasakan panganan karbohidrat alternatif berupa nasi jagung olahan Ibu Warsito. Dipadu dengan sayur sawi yang juga dari kebun sendiri dan sambel hijau yang cabenya juga dari kebun sendiri. Sebuah pengalaman yang tak pernah terlupakan. Sehabis makan, saya juga sempat mencoba rokok tingwe alias linting dhewe yang tembakaunya merupakan olahan lokal Jurangjero. Mangku Warsito sendiri juga merupakan perokok berat yang setiap habis satu batang tingwe langsung melinting batang berikutnya.

Mangku Warsito yang Perokok Berat
Panganan Nasi Jagung

Melihat dari banyak dan kayanya sumber daya alam yang ada di sekitar umat di pedalaman Jawa, sudah selayaknya mereka tidak merasa minder. Mereka harus berkonsentrasi untuk memperbaiki kehidupan perekonomian mereka sehingga tidak mudah menjadi obyek konversi pendakwah dan misionaris yang jualan pokoknya adalah masalah ekonomi. Dan sudah menjadi tanggung jawab moral kita sebagai umat Hindu yang sudah mapan untuk membantu mereka, tentu bukan dengan memberi uang dan bantuan instan namun dengan memberi penyertaan dan pendampingan dalam perkembangan perekonomian umat.
Ah Jurangjero, terima kasih atas Teh, Sayur, Nasi Jagung, dan Tembakau-mu.

Sajian yang Harus Selalu Ada Setiap Hari di Pura Giri Mulyo
Peradah Indonesia di Jurangjero

Read More......

Sunday, October 24, 2010

Diskusi Kecil di Pura Parahyangan Jagat Guru Bumi Serpong Damai



Minggu, 24 Agustus 2010 kemarin, saya dan rekan-rekan Peradah Indonesia berkunjung ke salah satu pura baru yang masih dalam tahap penyelesaian pembangunan di wilayah Bumi Serpong Damai (BSD). Awalnya, tujuan kami datang ke sana adalah untuk mengikuti pertemuan umat Hindu etnis Jawa yang ada di sekitar Jakarta namun acara tersebut diundur karena bertepatan dengan pertemuan sejenis di tempat lain. Walupun demikian kami tetap berangkat ke pura BSD untuk berdiskusi dan ngobrol-ngobrol dengan salah satu sesepuh pemuda di  wilayah BSD, bli I Gede Raka. 

Kira-kira pukul 17.00 kami sampai di lingkungan pura BSD. Kami sendiri tidak mengalami kesulitan untuk menemukan pura dengan panduan lokasi pura yang ada di www.purabsd.blogspot.com. Pura BSD memiliki seorang penjaga bernama Mang Eko yang asli etnis Sunda Kuningan. Mang Eko sepertinya memang ditugaskan untuk menjadi penjaga pura sekaligus menyediakan keperluan umat yang ingin bersembahyang ataupun sekadar berkunjung untuk menikmati suasana pura. Sejenak Mang Eko mempersiapkan tikar, selendang, dupa, dan bunga untuk kami bersembahyang. Dan sebelum memulai diskusi kami menghaturkan sembah kepada Hyang Widhi Wasa dan manifestasinya yang bersthana di pura tersebut yang bernama sangat indah, Pura Parahyangan Jagat Guru.

Menurut www.purabsd.blogspot.com, pura ini diprakarsai oleh umat Hindu di seputaran BSD City, Gading Serpong, Melati Mas, Cisauk, Pamulang, Bintaro, Sarua, Rempoa, Serpong, dan seitarnya. Dengan mendapat dukungan penuh dari para tokoh Hindu Tangerang dan Parisada Propinsi Banten, serta perjuangan selama 3 tahun akhirnya lahan ini bisa dikelola oleh umat Hindu berupa lahan fasilitas umum seluas sekitar 2.200 m dan IMB dari Pemda Tangerang. Awalnya, lokasi yang ditawarkan sebagai tempat pembangunan pura oleh Pemda Tangerang bukanlah di lokasi yang ada sekarang. Lokasi yang ditawarkan sebelumnya ditolak oleh umat karena dari sisi spiritual kurang tepat untuk dijadikan tempat persembahyangan karena lokasinya yang sangat dekat dan merupakan akses ke pemakaman. Dan melalui diplomasi yang alot, maka pura BSD bisa berdiri di lahan yang ada saat ini.

Dalam diskusi yang santai, Bli I Gede Raka, tokoh pemuda Hindu setempat, menjelaskan tentang sejarah berdirinya pura ini dan progress pendirian pura sejauh ini. Bangunan suci yang ada di pura BSD sejauh ini adalah sebuah padmasana yang bergaya Bali dengan batu hitam, berukiran bedawang nala dan satu naga. Khusus untuk arca naga yang hanya satu (biasanya ada dua arca naga yaitu Naga Antaboga dan Naga Besuki) saya belum sempat menanyakan. Di mandala utama pura sendiri rencananya akan dibangun beberapa bangunan suci lain seperti anglurah dan beberapa bangunan suci lainnya. Di pura BSD ini juga rencananya akan dibuat menjadi Hindu Centre untuk wilayah BSD dan sekitarnya. Akan ada juga gedung 3 lantai yang akan difungsikan menjadi aula pertemuan dan ruang kelas pasraman. Yang menarik, gedung yang akan dibangun ini berkonsep green building dengan partisi yang bisa dilipat sehingga seperti berada di ruang terbuka. Tentu konsep hijau ini akan didukung dengan pepohonan yang sudah ditanam di bebrapa bagian pura. Oh ya, ada yang menarik dari salah satu bangunan suci yang ada di pura BSD ini. Pelinggih berupa tugu yang biasanya ada di depan kori agung pura berbentuk unik berupa batu hitam yang tidak berukir dan tidak di pahat secara rapi namun sedikit dibiarkan tidak rata. Saya tidak tahu apakah batu itu akan diukir atau dipahat nantinya.

Salah satu pelinggih unik di Pura BSD

Sore itu, kami juga sempat berdiskusi dengan Sukirno, salah satu guru Agama Hindu di BSD. Beliau yang asli Blitar, Jawa Timur menceritakan fakta-fakta umum tentang Hindu di Jawa, seperti kesulitan membuat KTP,beragama Islam sewaktu SMP, dan takut menunjukkan diri sebagai seorang Hindu yang memegang ajaran leluhur. Untung saja, menurut beliau, di era reformasi, ketakutan dan keminderan masyarakat Hindu etnis Jawa  mulai berkurang, walaupun desakan-desakan konversi agama masih banyak terjadi dengan pelbagai modus halus.

Diskusi singkat dengan bahasan ngalor ngidul itu akhirnya kami akhiri sekitar pukul 21.00 malam. Dengan berjanji untuk datang ke acara pertemuan umat Hindu etnis Jawa yang ternyata diundur menjadi minggu depan, kami berpamitan kepada, Bli Raka, Pak Kirno, dan Mang Eko meninggalkan Pura Parahyangan Jagat Guru yang masih berjuang untuk berdiri tegak sesuai keingan para pemrakarsanya. Astungkara

Pak Sukirno
Bli Gede Raka
DPN Peradah
DPN Peradah


Read More......